Pengalaman ini ingin saya sampaikan pada teman-teman, sebagai pelajaran ternyata di tempat suci sekalipun, masih ada saja penipu dengan kelihaiannya berakting dan bersandiwara untuk mendapatkan uang. Kejadiannya pada waktu saya melaksanakan Ibadah Umrah bulan April lalu, pada hari kedua saya di Madinah saya pergi melaksanakan sholat dhuhur di Masjid Nabawi, karena bangga dengan ciri khas bangsa sendiri, saya shalat memakai peci hitam, saya pergi sendiri lebih awal satu jam menjelang masuk waktu Dhuhur, ….sedangkan teman serombongan masih belum pada berangkat.
Sampai di masjid setelah sholat sunat, saya membaca qur’an, saat itu jamaah belum begitu banyak, waktu saya baca quran,seseorang duduk sebelah saya yang dari postur serta wajahnya dia itu orang Timur Tengah, ……., kemudian dia mengucap salam sambil menegur, saya berhenti baca quran, meskipun saya merasa terganggu, saya jawab salamnya, kemudian saya lanjutkan bacaan saya…… Kemudian dia ngomong bahwa dari peci yang saya pakai, saya pasti berasal dari Malaysia atau Indonesia, saya jawab saya dari Indonesia, apakah saya bisa bicara bahasa Inggris,tanyanya lagi… saya jawab bisa sedikit-sedikit, ……..karena dia terus bertanya, terpaksa saya hentikan dulu bacaan qur’an saya, menurut pikiran saya apa salahnya merespon seseorang yang ingin berkenalan baik-baik dan sopan, apalagi teman sesama muslim.
Tulisan itu berbunyi :” orang ini telah kehilangan uang belum lama ini di Madinah, sebesar 3500 real, sekarang dia perlu bantuan sedekah untuk bekal hidup dia selama melaksanakan ibadah umrah, dia sama sekali tidak punya uang, mudah2an Allah memberi balasan yang berlipat pada orang yang memberi dia sedekah” 
Entah kenapa,… saya percaya dan iba setelah saya melihat tulisan itu, kemudian saya bilang saya tidak punya uang reyal di dompet karena uang reyal dipegang isteri saya, kemudian dia ngomong uang rupiah juga tidak masalah bisa dia tukarkan sendiri, kebetulan di dompet saya ada uang rupiah sebanyak Rp. 350.000,- lalu saya keluarkan 100.000 rupiah, ….dia bilang apa ini sama dengan 100 real? saya jawab kurang, karena 100 real sama dengan Rp 250.000,-, kemudian dia ngomong lagi , demi Allah berikanlah saya Rp. 250.000,- karena saya perlu 100 real untuk bekal hidup saya…….., dan anehnya saya menurut saja apa yang dia minta, saya berikan lagi Rp. 150.000,-, setelah dia menerima sebanyak Rp. 250.000,- dia mencium tangan saya sambil berkata ,” saya percaya anda akan mendapat balasan dari Allah lebih dari ini,” kemudian dia cepat-cepat pergi, saya melanjutkan bacaan qur’an saya.
Kejadian itu saya ceriterakan pada isteri saya, dan isteri saya bilang saya sudah ditipu mentah-mentah oleh orang yang pintar berakting, makanya papa jangan percaya sama orang baru kenal, ……meskipun ini di tanah suci, ada saja penipu yang memanfaatkan kelengahan dan keluguan kita, kata isteri saya. ….Saya baru sadar bahwa memang tidak ditanah suci tidak di tanah air sendiri, penipu itu gentayangan.
Kejadian itu kembali terulang pada saat akan sholat Magrib, …….dan kebetulan saya memakai peci hitam lagi, modus operandinya sama tapi orangnya lain,…… tetap ngakunya sebagai orang Afganistan yang dapat musibah kehilangan uang. karena saya tidak mau tertipu untuk kedua kalinya, saya bilang sama dia, ma’af saya sedang baca qur’an tidak mau diganggu, akhirnya dia ngeloyor pergi.
Hari berikutnya saya berangkat ke Makkah untuk melaksanakan ibadah Umrah,….. pada malam kedua di Mekkah, saya bersama isteri pergi melaksanakan sholat Maghrib, karena tempat wanita dan laki-laki terpisah saya melaksanakan sholat sendiri,….. seperti biasa menjelang waktu Magrib tiba, saya membaca Al-Qur’an…………selagi saya baca al-qur’an, tiba-tiba ada yang mengucap salam serta menegur saya dalam bahasa Inggris, saya menoleh kearahnya….jangan-jangan kejadian seperti di Masjid Nabawi akan terulang lagi….., saya hentikan bacaan saya,saya menoleh ke arah dia , penasaran apakah jalan ceriteranya akan sama dengan yang di Masjid Nabawi, saya merespon dia,…dan kali ini orangnya mengaku sebagai Muallaf dari Myanmar, katanya baru 3 bulan dia masuk Islam………., ,……kedua orang tuanya , kakak serta adiknya beragama Buddha, dan mereka akan membunuhnya karena dia masuk Islam, menurutnya nama dia sebelum jadi Muallaf adalah Yi sedangkan setelah jadi Muslim menjadi Abdul Shadiq, dia lulus dari Universitas di Myanmar sebagai sarjana teknik informatik, dan dia kerja sebagai finance analyst di sebuah bank di Myanmar, karena dia dimusuhi oleh kedua orangtuanya serta saudara-saudaranya, dia nekad meninggalkan negaranya serta pekerjaannya lalu pergi ke Mekkah untuk mempelajari lebih dalam agama Islam yang baru dia anut….menurut dia lagi dia tidak akan kembali ke negaranya….tapi akan pergi ke Surabaya, setelah dia selesai mempelajari agama Islam di Mekkah……..dia akan bekerja di salah satu Bank di Surabaya sebagai finance analyst,…melalui bantuan temannya orang Surabaya…….saya menyimak apa yang di katakannya..antara percaya dan tidak.
Dan inilah klimaksnya,…dia berkata; …….apakah saya bisa membantu dia menyumbangkan uang untuk membeli Tafsir Qur’an dalam bahasa Myanmar dan Inggris, yang saat ini dia sedang pelajari, harga Tafsir itu 100 reyal…..dan benar dugaan saya, dia itu sama saja dengan penipu yang di Masjid Nabawi, ujung-ujungnya minta duit……cuma skenarionya saja yang beda…….saya diam sejenak…kemudian saya ngomong sama dia….kamu itu orang Myanmar, tapi wajahmu tidak mencirikan orang Myanmar…dia kaget mendengar itu….lalu dia segera pergi tanpa berkata sepatahpun…lah muka kaya orang India ngaku-ngaku dari Myanmar…..kena deh, kasian deh lu…kata saya dalam hati
.
Akhirnya saya baru menyadari…lagi-lagi waktu itu saya memakai peci hitam…… dengan peci hitam yang saya kenakan dia menganggap saya orang Melayu (Indonesia atau Malaysia)…yang pada umumnya orang Melayu itu peramah dan mudah bersahabat apalagi dengan sesama Muslim……keramahan dan keluguan itulah yang dimanfaatkannya …untuk mendapatkan uang….
karena takut kejadain itu berulang lagi….Hari-hari berikutnya saya memakai peci putih kalau pergi sholat ke masjid….dan Alhamdulillah peristiwa itu gak terjadi lagi…..sampai saya kembali ke Indonesia…..



